lovelyblue14

lovelyblue14.wordpress.com

Tugas 4

on July 3, 2014

A.  Terapi Kelompok

  1. Konsep Dasar Terapi Kelompok

a.  Terapi Kelompok adalah psikoterapi yang dilakukan pada sekelompok klien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain dipimpin oleh seorang terapis atau petugas kesehatan jiwa yang terlatih. (Direktorat Kesehatan Jiwa )

b.  Terapi kelompok adalah perawatan modalitas untuk lebih dari satu orang yang menyediakan hasil yang terapeutik untuk individu. (Deborah Atai Otong )

c.  Terapi Kelompok adalah bentuk terapi yang melibatkan satu kelompok dari pertemuan yang telah direncanakan oleh seorang terapis yang ahli untuk memfokuskan pada satu atau lebih dalam hal :

1)      Kesadaran dan pengertian diri sendiri.

2)      Memperbaiki hubungan interpersonal.

3)      Perubahan tingkah laku.

d.  Terapi Kelompok adalah proses keperawatan teurapeutik yang dilakukan dalam kelompok. (Judih Haber)

       Jadi dapat disimpulkan bahwa Terapi kelompok merupakan metoda pekerjaan sosial yang menggunakan kelompok sebagai media proses pertolongan profesional. Maksudnya ialah individu-individu yang mengalami masalah sejenis disatukan dalam kelompok penyembuhan dan kemudian dilakukan terapi dengan dibimbing atau didampingi oleh seorang atau satu tim petugas kesehatan.

2.  Unsur-Unsur Terapi

a.   Munculnya gangguan

1)      Indikasi :

a)      Klien Psikotik seperti kecemasan, panik, depresi ringan

b)      Klien yang mengalami stress dalam kehidupan penyakit / kematian.

c)      Klien dengan masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan

d)     Klien dengan gangguan keluarga, ketergantungan, dan sejenisnya

2)      Kontra indikasi :

a)      Waham

b)      Depresi berat

c)      Sosio / Psikopat

d)     Sedang menjalani terapi lain

e)      Tidak ada harapan sembuh

f)       Pembosan

b.  Tujuan terapi

1)      Tujuan Umum :

a)      Meningkatkan kemampuan uji realitas

b)      Membentuk sosialisasi

c)      Meningkatkan fungsi psikologis : meningkatkan kesadaran tentang hubungan antara reaksi emosional dengan perilaku defensive

d)     Membangkitkan motivasi bagi kemampuan fungsi kognitif dan afektif

2)      Tujuan Khusus :

a)      Meningkatkan identitas diri

b)      Menyalurkan emosi

c)      Keterampilan hubungan social

3)      Tujuan Rehabilitatif :

a)      Meningkatkan kemampuan hidup mandiri

b)      Soialisasi di tengah masyarakat

c)      Empati

d)     Meningkatkan pengetahuan problema hidup dan penyelesaian.

 c.  Peran Terapis

       Peran Kelompok Pemimpin perlu mengobservasi peran yang terjadi dalam kelompok. Ada beberapa peran dan fungsi kelompok yang ditampilkan anggota kelompok daslam kerja kelompok yaitu maintenance roles yaitu peran serta akyif dalam proses kelompok dan fungsi kelompok. Task roles yaitu focus pada penyelesaian tugas, dan individual roles adalah self centered dan distraksi pada kelompok. Peran Terapis yang terpenting dalam konseling/terapi kelompok adalah konselor/terapis harus mempunyai dasar teori dan terlatih untuk memimpin kelompok, karena dikuatirkan membuat lebih buruk keadaan.

3. Teknik-Teknik Terapi

  1. Kelompok eksplorasi interpersonal
  2. Kelompok Bimbingan-Inspirasi
  3. Terapi Berorientasi Psikoanalitik

 B.  Terapi Keluarga

  1. Konsep Dasar Terapi Keluarga

Terapi keluarga adalah model terapi yang bertujuan mengubah pola interaksi keluarga sehingga bisa membenahi masalah-masalah dalam keluarga (Gurman, Kniskern & Pinsof, 1986). Terapi keluarga muncul dari observasi bahwa masalah-masalah yang ada pada terapi individual mempunyai konsekuensi dan konteks sosial. Contohnya, klien yang menunjukkan peningkatan selama menjalani terapi individual, bisa terganggu lagi setelah kembali pada keluarganya.

Terapi keluarga didasarkan pada teori system (Van Bertalanffy, 1968) yang terdiri dari 3 prinsip :

  1. Pertama, adalah kausalitas sirkular, artinya peristiwa berhubungan dan saling bergantung bukan ditentukan dalam sebab satu arah–efek perhubungan.
  2. Kedua, ekologi, mengatakan bahwa system hanya dapat dimengerti sebagai pola integrasi, tidak sebagai kumpulan dari bagian komponen. Dalam system keluarga, perubahan perilaku salah satu anggota akan mempengaruhi yang lain.
  3. Ketiga, adalah subjektivitas yang artinya tidak ada pandangan yang objektif terhadap suatu masalah, tiap anggota keluarga mempunyai persepsi sendiri dari masalah keluarga.
  4. Munculnya gangguan

2.  Unsur-Unsur Terapi

a.  Munculnya Gangguan

       Terapi keluarga akan sangat bermanfaat jika digunakan pada kasus yang tepat. Indikasi terapi keluarga menurut Walrond Skinner adalah : “Gejala yang timbul merupakan ekspresi disfungsi dari sistem keluarga. Gejala yang timbul lebih menyebabkan beberapa perubahan dalam hubungan anggota keluargannya dan dapat merupakan masalah secara individual..”

b.  Tujuan Terapi

1)      meningkatkan keterampilan interpersonal dan perilaku

2)      mengembangkan komunikasi secara terbuka

3)      meningkatkan fungsi keluarga secara optimal

4)      memfasilitasi perubahan positif dalam keluarga.

c.   Peran Terapis

1)      mendidik kembali dan mengorientasikan kembali seluruh anggota keluarga

2)      memberikan dukungan kepada klien serta sistem yang mendukung klien untuk mencapai tujuan dan usaha untuk berubah

3)      mengkoordinasi dan mengintegrasikan sumber pelayanan kesehatan

4)      memberi penyuluhan, perawatan di rumah, psiko edukasi,dll

3.  Teknik-teknik Terapi

  1. Klien berbicara dengan terapis, bukan dengan sesama anggota keluarga. Ini untuk  menjaga agar reaktivitas emosional tetap rendah.
  2. Genograms merupakan peta yang merepresentasikan paling tidak tiga generasi dalam keluarga.
  3. Detriangulating yaitu tetap bersikap objektif dan tidak memihak.

C.  Terapi Bermain

  1. Konsep Dasar

Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi anak.

Terapi Bermain adalah pemanfaatan permainan sebagai media yang efektif oleh terapis, untuk membantu klien mencegah atau menyelesaikan kesulitan-kesulitan psikososial, mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal melalui eksplorasi atau ekspresi diri

Terdapat lima karakteristik bermain peran, yaitu:

  1. Merupakan sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai yang positif bagi anak.
  2. Didasari motivasi yang muncul dari dalam. Jadi anak melakukan kegiatan itu atas kemauannya sendiri.
  3. Sifatnya spontan dan sukarela, bukan merupakan kewajiban. Anak merasa bebas memilih apa saja yang ingin dijadikan alternatif bagi kegiatan bermainnya.
  4. Senantiasa melibatkan peran aktif dari anak, baik secara fisik maupun mental.
  5. Memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan sesuatu yang bukan bermain, seperti kemampuan kreatif, memecahkan masalah, kemampian berbahasa, kemampuan memperoleh teman sebanyak mungkin dan sebagainya.
    1. Munculnya gangguan

2.  Unsur-Unsur Terapi

a.  Munculnya gangguan

       Munculnya gangguan, antara lain : Permainan merupakan suatu kesibukan yang ada dalam kehidupan sehari-hari dari diri anak berkebutuhan khusus  dan berguna bagi dirinya dalam kehidupannya yang mandiri kelak.

b.  Tujuan Terapi

    Tujuan terapi bermain adalah mengubah tingkah laku anak yang tidak sesuai menjadi tingkah laku yang diharapkan. Dengan terapi, anak mampu diubah perilakunya melalui cara yang menyenangkan.

c.  Peran Terapis

1)      Sarana pencegahan : tidak menambah permasalahan baru dan menghmbat proses belajarnya.

2)      Sarana penyembuhan : dapat disembuhkan atau dilatih sebagai sarana belajar melalui bentuk-bentuk permainan yang                   ber7an mengembalikan fungsi fisik,psiko-terapi,modifikasi perilaku, mengembangkan fungsi sosial, melatih bicara,                         mempertajam atau latihan visual, latihan auditif, latihan taktil, dll.

3)      Sarana penyesuaian diri : anak-anak sulit beradaptasi, oleh karena itu dilatih bekelompok dalam permainan.

3.  Teknik Terapi

a.  Nilai Terapiutik dari Permainan

Saat anak mengeluarkan perasaannya melalui permaianan, maka mereka membawa perasaan tersebut ke dalam tingkat kesadaran, sehingga akhirnya mereka akan terbuka, menerima dan belajar mengendalikan atau menolaknya.

b.  Kepada Siapa Terapi Bermain Diberikan

Terapi bermain dapat dipakai baik sebagai asesmen maupun sebagai terapi. Sebagai sebuah terapi, terapi bermain dapat diberikan kepada anak yang :

1)      Mempunyai pengalaman diperlakukan dengan kejam dan diabaikan.

2)      Gangguan emosi dan skizofren.

3)      Takut dan cemas.

4)      Mengalami masalah penyesuaian social.

5)      Kesulitan bicara.

6)      Mengalami gangguan visual spatial.

7)      Anak penyandang autism.

c.  Prosedur dalam Terapi Bermain.

1)      Fase Persiapan :

Sebelum memasuki fase terapi bermain anak harus disiapkan sehingga mereka tahu apa yang akan dihadapi dan akan dilakukannya. Guru bercerita bahwa nanti ada banyak permainan dan kamu pasti akan senang serta menjelaskan bahwa proses ini akan membantu anak menemukan hal yang lebih baik.

2)      Proses Terapi Bermain :

Menggambarkan lima tahap dimana anak yang mengalami gangguan emosi berkembang menuju ekspresi diri dan kesadaran diri dalam proses terapi permainan :

  1. Emosi negative terekspresikan secara menyebar ditempat klien bermain. Misalnya ekspresi dari reaksi terhadap kekerasan tersebar pada ruang bermain, alat permainan, atau pada terapis.
  2. Anak mengekspresikan emosi yang bertentangan, misalnya antara kecemasan dengan kekasaran.
  3. Anak lebih focus dalam mengekspresikan emosi negative, misalnya pada orang tua, diri sendiri, atau orang lain dalam hidupnya.
  4. Emosi dan sikap yang bertentangan, negative dengan positif, kembali terjadi dengan focus pada orang tua, diri anak atau orang lain.
  5. Anak mengekspresikan tilikan diri dan pemahaman atas emosi negative ataupun positif yang ada pada dirinya dengan jelas, terbedakan, terpisah dan realistic dengan sikap posiif yang lebih dominan.
  6. Hal Penting Sesudah Terapi Bermain.

Jika Terapi bermain selesai, sebaiknya anak tersebut dibiarkan dulu, jangan ditanya tentang apa yang terjadi dan bagaimana perasaannya selama bermain. Akan tetapi hal tersebut diperbolehkan jika anak yang lebih dulu memulai pembicaraan tentang yang terjadi. Baru anak tersebut setelah sampai di rumah disuruh menggambar atau melukis.

 

D. Review : Sebutkan tokoh dari terapi – terapi di bawah ini, dan jelaskan teknik – teknik terapinya.

1. Terapi Psikoanalisis (Sigmund Freud)

a. Free Association : adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman2 masa lalu & pelepasan emosi2 yg berkaitan                 dengan situasi2 traumatik di masa lalu
b. Analisis Transferensi : Adalah teknik utama dalam Psikoanalisis karena mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa      lalu nya dalam terapi
c. Analisis Resistensi : Ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan-alasan yang ada dibalik resistensi sehingga dia        bisa menanganinya
d. Analisis Mimpi : Suatu prosedur yg penting untuk menyingkapi bahan-bahan yang tidak disadari dan memberikan kepada            klien atas beberapa area masalah yang tak terselesaikan

2. Terapi Humanistik Eksistensial (Carl Rogers)

a. Person-Centered Therapy (Carl R. Rogers)
b. Gestalt Therapy (Fritz Perls)
c. Transactional Analysis (Eric Berne)
d. Rational-Emotive Therapy (Albert Ellis
e. Existential Analysis (Rollo May, James F. T. Bugental) dan Logotherapy (Viktor Frankl)

3. Person-Centered Therapy (Carl R. Rogers)

a. Empathy
Empati adalah kemampuan terapis untuk merasakan bersama dengan klien dan menyampaikan pemahaman ini kembali kepada mereka. Empati adalah usaha untuk berpikir bersama dan bukan berpikir tentang atau mereka. Rogers mengatakan bahwa penelitian yang ada makin menunjukkan bahwa empati dalam suatu hubungan mungkin adalah faktor yang paling berpengaruh dan sudah pasti merupakan salah satu faktor yang membawa perubahan dan pembelajaran.

b. Positive Regard (acceptance)
Positive Regard yang di kenal juga sebagai akseptansi adalah geunine caring yang mendalam untuk klien sebagai pribadi – sangat menghargai klien karena keberadaannya.

c. Congruence
Congruence / Kongruensi adalah kondisi transparan dalam hubungan tarapeutik dengan tidak memakai topeng atau pulasan – pulasan.
Menurut Rogers perubahan kepribadian yang positif dan signifikan hanya bisa terjadi di dalam suatu hubungan.

4. Logotherapy (Frankl)

Victor Frankl dikenal sebagai terapis yang memiliki pendekatan klinis yang detail. Diantara teknik-teknik tersebut adalah yang dikenal dengan intensi paradoksal, yang mampu menyelesaikan lingkaran neurotis yang disebabkan kecemasan anti sipatori dan hiper-intensi. Intensi paradoksal adalah keinginan terhadap sesuatu yang ditakuti.

Teknik terapi Frankl yang kedua adalah de-refleksi. Frankl percaya bahwa sebagian besar persoalan kejiwaan berawal dari perhatian yang terlalu terfokus pada diri sendiri. Dengan mengalihkan perhatian dari diri sendiri dan mengarahkannya pada orang lain, persoalan-persoalan itu akan hilang dengan sendirinya.

5. Analisis Transaksional (Berne)

1. Permission : Memperbolehkan klien melakukan apa yang tidak boleh dilakukan oleh orang tuanya
2. Protection : Melindungi klien dari ketakutan karena klien disuruh melanggar terhadap peraturan orang tuanya.
3. Potency : Mendorong klien untuk menjauhkan diri klien dari injuction yang diberikan orang tuanya.
4. Operation

a. Interrogation : Mengkonfrontasikan kesenjangan-kesenjangan yang terjadi pada diri klien sehingganya berkembang               respon adult dalam dirinya.
b. Specification : Mengkhususkan hal-hal yang dibicarakan sehingganya klien paham tentang ego statenya.
c. Confrontation : Menunjukkan kesenjangan atau ketidak beresan pada diri klien
d. Explanation : Transaksi adult-adult yang terjadi antara konselor dengan klien untuk menejlaskan mengapa hal ini                  terjadi (konselor mengajar klien)
e. Illustration : Memberikan contoh pengajaran kepada klien agar ego statenya digunakan secara tepat.
f. Confirmation : Mendorong klien untuk bekerja lebih keras lagi.
g. Interpretation : Membantu klien menyadari latar belakang dari tingkah lakunya
h. Crystallization : Menjelaskan kepada klien bahwasanya klien sudah boleh mengikuti games untuk mendapatkan stroke         yang diperlukannya.

6. Rational Emotive Therapy (Ellis)

1) Teknik-Teknik Emotif (Afektif)

a. Assertive adaptive
Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.
b. Bermain peran
Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.
c. Imitasi
Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif.

7. Teknik Perilaku (Behavior Therapy)

a. Desensitisasi sistematik dipandang sebagai proses deconditioning atau counterconditioning. Prosedurnya adalah memasukkan           suatu respons yang bertentangan dengan kecemasan, seperti relaksasi. Individu belajar untuk relaks dalam situasi yang                         sebelumnya menimbulkan kecemasan.
b. Flooding adalah prosedur terapi perilaku di mana orang yang ketakutan memaparkan dirinya sendiri dengan apa yang                            membuatnya takut, secara nyata atau khayal, untuk periode waktu yang cukup panjang tanpa kesempatan meloloskan diri.
c. Penguatan sistematis (systematic reinforcement) didasarkan atas prinsip operan, yang disertai pemadaman respons yang tidak        diharapkan. Pengkondisian operan disertai pemberian hadiah untuk respons yang diharapkan dan tidak memberikan hadiah                 untuk respons yang tidak diharapkan.
d. Pemodelan (modeling) yaitu mencontohkan dengan menggunakan belajar observasionnal. Cara ini sangat efektif untuk                         mengatasi ketakutan dan kecemasan, karena memberikan kesempatan kepada klien untuk mengamati orang lain mengalami                situasi penimbul kecemasan tanpa menjadi terluka. Pemodelan lazimnya disertai dengan pengulangan perilaku dengan permainan    simulasi (role-playing).
e. Regulasi diri melibatkan pemantauan dan pengamatan perilaku diri sendiri, pengendalian atas kondisi stimulus, dan                              mengembangkan respons bertentangan untuk mengubah perilaku maladaptif.

8. Terapi Kelompok (Samuel Slavson)

a. Kelompok eksplorasi interpersonal
b. Kelompok Bimbingan-Inspirasi
c. Terapi Berorientasi Psikoanalitik

9. Terapi Keluarga (Gregory Bateson)

a. Klien berbicara dengan terapis, bukan dengan sesama anggota keluarga. Ini untuk menjaga agar reaktivitas emosional tetap rendah.
b. Genograms merupakan peta yang merepresentasikan paling tidak tiga generasi dalam keluarga.
c. Detriangulating yaitu tetap bersikap objektif dan tidak memihak.

10. Terapi Bermain (Santrock)

a. Nilai Terapiutik dari Permainan
Saat anak mengeluarkan perasaannya melalui permaianan, maka mereka membawa perasaan tersebut ke dalam tingkat kesadaran, sehingga akhirnya mereka akan terbuka, menerima dan belajar mengendalikan atau menolaknya.
b. Kepada Siapa Terapi Bermain Diberikan
Terapi bermain dapat dipakai baik sebagai asesmen maupun sebagai terapi. Sebagai sebuah terapi, terapi bermain dapat diberikan kepada anak yang :

1) Mempunyai pengalaman diperlakukan dengan kejam dan diabaikan.
2) Gangguan emosi dan skizofren.
3) Takut dan cemas.
4) Mengalami masalah penyesuaian social.
5) Kesulitan bicara.
6) Mengalami gangguan visual spatial.
7) Anak penyandang autism.

c. Prosedur dalam Terapi Bermain.

1) Fase Persiapan :
Sebelum memasuki fase terapi bermain anak harus disiapkan sehingga mereka tahu apa yang akan dihadapi dan akan dilakukannya. Guru bercerita bahwa nanti ada banyak permainan dan kamu pasti akan senang serta menjelaskan bahwa proses ini akan membantu anak menemukan hal yang lebih baik.
2) Proses Terapi Bermain :
Menggambarkan lima tahap dimana anak yang mengalami gangguan emosi berkembang menuju ekspresi diri dan kesadaran diri dalam proses terapi permainan :

a) Emosi negative terekspresikan secara menyebar ditempat klien bermain. Misalnya ekspresi dari reaksi terhadap kekerasan         tersebar pada ruang bermain, alat permainan, atau pada terapis.
b) Anak mengekspresikan emosi yang bertentangan, misalnya antara kecemasan dengan kekasaran.
c) Anak lebih focus dalam mengekspresikan emosi negative, misalnya pada orang tua, diri sendiri, atau orang lain dalam                  hidupnya.
d) Emosi dan sikap yang bertentangan, negative dengan positif, kembali terjadi dengan focus pada orang tua, diri anak atau              orang lain.
e) Anak mengekspresikan tilikan diri dan pemahaman atas emosi negative ataupun positif yang ada pada dirinya dengan jelas,         terbedakan, terpisah dan realistic dengan sikap posiif yang lebih dominan.

d. Hal Penting Sesudah Terapi Bermain.
Jika Terapi bermain selesai, sebaiknya anak tersebut dibiarkan dulu, jangan ditanya tentang apa yang terjadi dan bagaimana perasaannya selama bermain. Akan tetapi hal tersebut diperbolehkan jika anak yang lebih dulu memulai pembicaraan tentang yang terjadi. Baru anak tersebut setelah sampai di rumah disuruh menggambar atau melukis.

 

Sumber :

–          http://www.slideshare.net/septianraha/makalah-terapi-kelompok#

–          alinnemutz.blogspot.com/2014/06/tugas-portofolio-ke-4.html

–          isthyqamadewi.blogspot.com/2012/06/makalah-terapi-keluarga.html

–          vivapsikologi.blogspot.com/2012/06/jenis-jenis-terapi-keluarga-family.html

–          berobat-jalan.blogspot.com/2013/03/terapi-bermain-play-therapy.html

–          cellucello.blogspot.com/2013/03/terapi-psikoanalisis.html

–          mayzellaindah.blogspot.com/2013/05/logoterapi-frankl.html

–          pasukananxiety.blogspot.com/2013/04/terapi-humanistik.html

–          setiawanabdee.blogspot.com/2013/03/psikoterapi-person-centered-therapy.html


One response to “Tugas 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: